Sabtu, 25 Januari 2014

munawir haris stain sorong 2014


MENCARI NUKTAH KESERAGAMAN ANTAR AGAMA
Oleh: Munawir Haris, M.S.I.

A. Pendahuluan
Secara konstitusional, Pancasila mengakui pentingnya agama dalam kehidupan.1 Hal ini terlihat dengan sila pertama, yaitu ketuhanan yang Maha Esa. Artinya bangsa Indonesia bebas menganut agama dan kepercayaan masing-masing sesuai dengan keyakinan. Masyarakat bebas beragama dengan keyakinan kepada sesuatu yang dianggap benar dan menyakinkan
Agama sebagaimana dipahami oleh banyak orang adalah sebagai pembimbing bagi keselamatan hidup manusia. Karena itu, dalam perjalanan sejarahnya, naluri untuk beragama itu akan senantiasa selalu ada. Islam sebagai agama yang menuntut sikap pasrah bulat-bulat kepada Ilahi sangat mendambakan kedamaian. Maka ketika terjadi berjumpaan antara sesama Muslim, ucapan “assalamu alaikum” atau “kedamaian untuk Anda” merupakan simbol dari harapan tersebut. Artinya kedamaian yang diinginkan oleh agama ini bukan hanya kedamaian bagi diri pribadi, akan tetapi untuk pihak lain. Dengan demikian, tidak heran jika salah satu ciri seorang Muslim adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw. Man salima al-muslimuna min lisanihi wa yadihi, artinya siapa yang menyelamatkan orang lain (yang mendambakan kedamaian) dari gangguan lidahnya dan tangannya).2
Agaknya bukan hanya agama Islam yang mendambakan kedamaian bagi setiap insan, agama-agama yang lain pun tentunya demikian. Karena secara apriori tak ada satu agama pun yang lahir di jagad ini yang mendambakan kekisruhan. Dengan demikian, penting bagi semua umat untuk dipertemukan nuktah keseragaman antar agama guna menciptakan kebaikan untuk semua. Nuktah tersebut tidak hanya bersifat penerimaan dan pengejawantahan akan nilai-nilai kebaikan umum yang terdapat dalam setiap agama, akan tetapi penolakan dan perlawanan akan segala jenis jahat yang secara apriori disepakati ketidakbaikannya oleh semua agama. Jadi tandasnya ketika ajaran sebuah agama terjelmakan dalam sistem perilaku, maka segala sistem tersebut hendaknya mengarah bagi kebaikan untuk semua manusia. Hal ini tentunya menjadi identitas dari semua agama, yaitu “agama senantiasa untuk kebaikan manusia.”
Masalahnya, dalam kehidupan beragama normativitas yang dituntut oleh agama untuk diejawantahkan kadang terkendala oleh pemahaman yang rigid dari pemeluknya sendiri. Nuktah keseragaman untuk bersama-sama beramal saleh dan melawan kejahatan kadang ditanggapi sebagai pencampurbauran keimanan. Padahal wilayah ini sudah jelas ditegaskan oleh agama, lakum dinukum waliya din, bagimu agamamu (baca; keimananmu), bagiku agamaku. Karena itu, tidak ada alasan untuk menjadikan keimanan seseorang sebagai ukuran persaudaraan dan ketidakbersaudaraan. Bukan alasan yang dibenarkan memberikan batas “kita-mereka” dalam kehidupan bermasyarakat atas dasar ketidaksepahaman. Kalau hal itu terjadi, maka kedamaian yang didambakan setiap agama akan terganggu. Malahan sikap anti orang karena beda iman akan menjadi api kericuhan dan pertikaian.
Telah disebutkan bahwa fungsi agama adalah sebagai pembimbing, dari itu ia merupakan berkah dan modal bagi manusia untuk mengarungi hidup. Akan tetapi, jika agama dipahami secara dangkal, tentunya agama (dalam arti keberagamaan) bisa menjadi sumber malapetaka. Belakangan ini kita saksikan berapa banyak orang yang mengklaim kebenaran pemahaman sepihaknya, sehingga mereka tak segan-segan melepaskan nyawa (baca; melakukan bom bunuh diri) dengan menyertakan nyawa-nyawa yang tak berdosa pergi bersamanya atas dalih jihad fi sabilillah. Bagi yang rasikh (dalam) ilmu keagamaannya tentu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala tanda ketakjuban plus kengerian akan sikap keberagamaan demikian. Teks bisu, ternyata sedemikian dasyatnya mengarahkan tindakan pembacanya. Adakah yang keliru dalam hal ini? Jelasnya kita akan menjawab, ya.
Di sinilah sebenarnya penghayatan keagamaan yang menyeluruh diperlukan. Dengan adanya penghayatan keberagamaan yang baik, tentunya akan melahirkan sikap dan perilaku keberagamaan yang baik pula. Kalau dihayati misi setiap agama, tentunya akan kita dapatkan bahwa betapa agama amat sangat menginginkan keselamatan bagi manusia seluruhnya, dan dari itu akan kita dapati keberpihakan agama untuk manusia. Dengan keberpihakan ini, konsekuensi logisnya adalah bahwa manusia dituntut untuk berperilaku sosial yang baik, dan setidaknya tidak merugikan orang lain.
Tulisan ini mencoba mengeksplorasi gagasan tentang suara kenabian dalam usaha mencari nuktah keseragaman agama, terutama yang terdapat dalam kitab suci masing-masing, sembari memadukannya dengan keteladanan yang telah diwariskan oleh pembawanya, yaitu Isa al-Masih (Yesus Kristus)3 dan Muhammad untuk lebih memperjelas dan mempertegas pentingnya saling menghormati dan saling bersatu padu untuk menolak ketidakbaikan dan menerima kebajikan umum.

B. Ber’itibar dari Ten Commandments
Telah ditegaskan bahwa secara apriori tidak ada satu agama pun di muka bumi ini yang mengarahkan umatnya ke dalam jurang kebinasaan, baik secara empirik-mondial maupun metafisik-eskatologis. Mengapa demikian, karena ketika suatu agama menyejarah, maka misi utama yang diusungnya adalah salvation atau keselamatan. Tanpanya agama akan kering dari pengikut dan mati terbengkalai ditelantarkan. Oleh karenanya, dalam sejarah peradaban manusia, dalam kelompok setiap umat ada saja seseorang yang diutus oleh Dzat yang transenden (baca; Tuhan) untuk membimbing dan menyuarakan suara-suara kenabian yang hampir secara umum seragam, yaitu keselamatan.
Dalam ajaran Taurat, tentu kita sangat mengenal Ten Commandments yang diterima Nabi Musa dari Tuhan di gunung Sinai (Exod, 20:1-17). Berikut ini adalah ringkasan isi dari sepuluh perintah tersebut:
1. You shall have no other gods except the one true God.
2. You shall not make for yourself an image to worship.
3. You shall not use the name of the lord your God in a careless manner.
4. Remember the sevent day of the week, and keep it holy.
5. Honor your father and your mother.
6. You shall not kill.
7. You shall not commit adultery.
8. You shall not steal.
9. You shall not tell a lie about your neigbor
10. You shall not covet anything that belong to your neighbor.4
Dari kesepuluh perintah tersebut dapat kita lihat dan pahami bahwa ajaran yang tertera pada nomor satu sampai empat tentunya masuk dalam wilayah keimanan masing-masing agama. Di sini tentunya truth claim masing-masing pihak tak bisa diruntuhkan. Dalam bahasa al-Qur’an sering disebut dengan lakum dinukum waliya din atau bagimu agamamu (baca; keimananmu), dan bagiku agamaku. Ketika kita berusaha untuk mendesakkan wilayah ini kepada wilayah keimanan yang telah dimiliki oleh orang lain, maka usaha tersebut akan berbuntut pada truth claim yang berimplikasi pada saling menutupi diri dan malah saling bertikai dan melukai. Oleh karenanya, untuk menyikapi hal ini ada baiknya kita membatasinya, dan kalaupun ada dialog, cukuplah sebagai usaha untuk memperkenalkan dan bukan untuk memaksakan.5 Berbeda dengan yang di atas, pada bagian kelima hingga kesepuluh tentunya sangat lentur. Di sini sangat erat sentuhannya pada nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga tidak ada alasan bagi semua manusia, baik yang beragama maupun tidak untuk menolaknya. Mengapa dikatakan demikian, karena fitrahnya manusia memang begitu. Tanpa ajaran agama pun manusia akan meyakini bahwa tindakan penghormatan kepada orang tua, menghindari pembunuhan, perzinaan, dan pencurian, serta berkata jujur dan tidak mendengki akan apa yang dimililiki oleh tetangga adalah sesuatu yang baik. Adapun tindakan untuk menyalahi aturan-aturan kodrati tersebut, pasti dianggap oleh seluruh manusia sebagai suatu kejahatan.
Sebenarnya sisi inilah yang jarang kita lirik ketika mendialogkan agama. Ketika kita bersinggungan dengan keyakinan orang lain, yang terungkap hanyalah truth claim, kami-kalian, kita-mereka. Sehingga aku yang begitu besar akan keyakinan sepihak mendorong kita untuk memaksakannya kepada orang lain. Padalahal upaya yang seharusnya dalam perbincangan antar iman sekali lagi panulis tekankan adalah sekedar untuk memperkenalkan dan bukan memaksakan. Karena keberhasilah suatu agama bukanlah terletak pada kuantitas pemeluknya, akan tetapi pada tingkatan kesadaran umat untuk mengaplikasikan nilai-nilai agamanya, terutama moralitasnya.
Tak jarang kesalahan tersebut terletak pada penyebar agama itu sendiri, sehingga misi penyelamatan bagi mereka sama dengan misi perekrutan anggota sebanyak-banyaknya. Padahal menyebarkan agama (apalagi dengan disertai upaya-upaya culas) pada orang yang sudah beragama adalah suatu kekeliruan, dan tidak bisa dibenarkan. Perjuangan kaum agamawan yang menekankan pada perekrutan anggota dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh agama itu sendiri, seperti yang tertera dalam Ten Commandments pada nomor lima hingga sepuluh merupakan upaya yang naif, dan jelas menunjukkan rendahnya mutu keberagamaan agamawan tersebut.
Dari sepuluh perintah yang diterima oleh Nabi Musa, enam diantaranya adalah nuktah keseragaman agama-agama. Enam perintah inilah sebenarnya wujud salvation yang bersifat empirik-eksoterik. Artinya yang dapat disadari dan dirasai manfaatnya secara langsung oleh umat beragama. Adapun yang empat merupakan salvation transendental-esoterik.6 Salvation empirik-eksoterik jelas sangat fungsional dan melampaui sekat-sekat agama. Agama manapun, baik itu Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, maupun Kong Hu Cu akan sepakat mengakui kebenarannya, bahkan mungkin malah mengklaim bersumber dari ajaran agama mereka. Sedangkan yang esoterik tentunya berada di luar batas kesadaran agama-agama. Yang demikian ini sangat transendental, tak ada cara untuk medekatinya kecuali dengan pendekatan teologis atau keimanan.

C. Warisan Keteladanan Yesus dan Muhammad
Dari sudut pandang dua agama besar, yaitu Kristen dan Islam, Musa merupakan tertua mereka yang sejalur dalam menerima wahyu dari Tuhan. Sehingga kedua agama besar ini sama-sama mengakui bahwa Tuhannya Musa juga merupakan Tuhan yang sama dengan yang mereka sembah. Dalam hal ini tentunya sangat menarik, karena dalam perjalanan sejarahnya (terutama dalam menerima wahyu), agama yang datang belakangan mengklaim keunggulan wahyu masing-masing. Meskipun sama-sama mengakui keberadaan Nabi Musa (bahkan Nabi Isa oleh Islam), kedua agama besar ini pada kenyataan sejarahnya memiliki keimanan yang berbeda. Inilah pangkal masalahnya, dan sejarah telah membuktikan betapa klaim keimanan berubah menjadi catastrophe, petaka bagi pemeluk agama. Masing-masing pihak mengaku sama benarnya, sehingga beda iman sama dengan musuh. Tak sedikitpun khususnya dari agamawan untuk meredam hal ini dengan berusaha melirik pada nuktah keseragaman, atau malah menekankannya. Parahnya lagi, agama malah menjadi tumpangan politik untuk memperlancar ambisi mereka. Ini semua dapat kita pelajari dari perjalanan Perang Salib yang telah menelan ribuan nyawa dengan jargon berperang dalam “semangat iman”.
Untuk itu, akankah sekat-sekat ini terus kita pertahankan ataukah mencari solusi lain untuk membuka wilayah yang lebih luas agar masing-masing pihak bisa bernafas lega meski berada dalam ruang yang sama? Dengan melihat tuntutan zaman, tampaknya sikap beda iman sama dengan musuh harusnya disudahi. Mengapa demikian, karena sikap ini akan terus menjadi pengganggu dalam kehidupan bermasyarakat, dan bisa-bisa menjadi sumber dari runtuhnya peradaban manusia.
Keberimanan adalah urusan pribadi manusia dengan Tuhan. Sehingga apabila ada orang yang berbeda keyakinan dengan kita, tentunya bukan hak kita untuk memaksanya melakukan konversi untuk ikut meyakini apa yang kita yakini. Dari itu, urusan keberimanan harus betul-betul dilindungi oleh hukum agar pada urutannya tak ada pemaksaan pihak lain untuk menjejalkan agamanya pada orang yang sudah beragama. Namun dalam urusan interaksi manusia dengan sesama, di sinilah ajaran-ajaran normatif (ajaran-ajaran agama yang berkaitan dengan moral) bisa dinikmati secara bersama, bahkan bisa dipaksakan kepada individu atau kelompok yang bersikeras untuk menolaknya. Orang yang bersikeras untuk mengatakan dan mengamalkan bahwa mencuri dan berzina itu wajib harus dipatahkan, bahkan jika perlu dipenjarakan manakala dia telah melakukannya. Ajaran-ajaran moralitas yang diturunkan dari masing-masing agama inilah yang merupakan ‘Suara Kenabian” dan merupakan nuktah keseragaman yang dituntut untuk dipertemukan.
Dalam Matt. 22:37-40, Yesus mengajarkan: “ You shall love the Lord your God with all your heart, and with all your soul, and with all your mind. This is the great and first commandment. And a second is like it, You shall love your neighbor as your self. On these two commandments depend all the law and the prophets”.7
Keharusan untuk mencintai tetangga sebagaimana kita mencintai diri sendiri merupakan ajaran yang sangat luar biasa. Keteladanan yang diberikan oleh Yesus merupakan kekuatan dalam menjalin suatu masyarakat yang ‘empatik’ atau satu rasa. Ajaran-ajaran yang demikian juga telah melahirkan buku-buku yang sangat berpengaruh dari zaman-kezaman. Sebut saja misalnya Stephen R. Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People, dan Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence. Keduanya ingin mengetengahkan betapa bersikap empatik kepada orang lain merupakan cara bersosial yang sangat baik. Kita tentunya tak akan mau menyakiti orang lain, baik dengan ucapan atau tindakan manakala diri kita sendiri sangat tidak mau kalau disakiti dan dilecehkan secara demikian. Oleh karena itu, tidak aneh kalau dalam ajaran agama Islam Nabi Muhammad pun menekankannya. Sabda Nabi: “la yu’minu ahadukum hatta yuhibba liakhihi ma yuhibbu linafsihi”, “tidaklah dikatakan beriman salah seorang dari kamu sebelum dia mau mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” Di sini Nabi Muhammad tidak hanya sekedar menekankan pentingnya bersikap empatik, malah beliau mengkategorikan orang yang menolaknya sebagai orang yang kafir, atau tidak beriman.
Dalam Matt. 5:21-26 Yesus mengajarkan: “I say to you that everyone who is angry with his brother shall be (in danger of) judgment”. Tak pelak kemarahan akan mendorong seseorang untuk bertindak salah, bahkan membahayakan orang lain. Seperti halnya seorang hakim, sekiranya dia memberikan keputusan berdasarkan kemarahan atau sikap like or dislike, boleh jadi dia akan bertindak salah, yaitu dengan mengorbankan yang benar dan membenarkan yang salah. Nabi Muhammad pun dalam ajaran yang diterimanya dari Tuhan menyebutkan, bahwa Tuhan telah berfirman dalam surah al-Maidah/5:8 : “la yajrimannakum syana’anu qaumin ala alla ta’dilu”, “janganlah sekali-kali kebencian kamu kepada suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil”. Oleh karenanya, hal-hal yang dapat mempengaruhi setiap keputusan, terutama pengaruh yang mendorong pada kesalahan, seyogiyanya ditangguhkan. Artinya, pengambilan keputusan tersebut semestinya ditunda terlebih dahulu, sehingga kondisi diri memang betul-betul stabil dan terbebas dari dorongan nafsu negatif.
Abu Hayan dalam bukunya, al-Bash’ir wa al-Zawahir, meriwayatkan bahwa suatu ketika al-Masih bersabda, “Telah dihamparkan untuk kalian dunia ini, telah didudukkan kalian di punggungnya, sedangkan aku sendiri tidak beristri, tidak beranak. Kasurku tanah, bantalku batu, pelitaku bulan. Tiada yang menyaingi kalian dalam merebut dunia kecuali setan dan para raja. Hadapilah setan dengan shalat dan ketabahan, dan serahkan kepada raja dunianya, niscaya akan diserahkan kepada kalian agama kalian. Para raja telah mengabaikan hikmah agar kalian ambil, maka abaikanlah dunia untuk mereka ambil.”
Ajaran moral ini disampaikan oleh beliau di tengah masyarakat yang sedang bergelimang dalam kemegahan hidup, foya-foya, dan bermuka dua. Pemuka-pemuka agama hanya terkait dengan bentuk formalitas acara ritual, namun gersang dan kering jiwanya. Kala itu korban kemegahan telah jatuh bergelimpangan, sehingga dibutuhkan penyelamatan dari ganasnya pengaruh dan dampak materialisme.
Dalam kondisi sosial dan psikologis masyarakat yang demikian, beliau datang membawa ajaran moral, “celakalah orang-orang yang kenyang yang tidak menyadari bahwa mereka pada hakikatnya lapar, yang kaya tapi lupa bahwa mereka butuh. Cintailah musuhmu. Berbuat baiklah kepada yang membencimu. Berkatilah mereka yang mengutukmu. Siapa yang menampar pipi kananmu, serahkan kepadanya pipi kirimu.”8
Senada dengan apa yang diajarkan oleh Yesus, Nabi Muhammad pun sangat mengutuk orang-orang yang tidur dalam keadaan kenyang sedang tetangganya merintih kelaparan. Dalam sebuah hadis disebutkan, “ la yu’minu ahadukum man baata sya’baanan wa jaruhu juuan.” Artinya, “tidak dibilang beriman salah seorang dari kamu yang tidur dalam kekenyangan sedang tetangganya merintih kelaparan.”
Sekali lagi di sini dapat kita lihat, bahwa orang-orang yang tidak bermoral -dalam konteks ini adalah mereka yang tidak memiliki kepedulian sosial,- dikecam oleh Nabi dengan sematan tidak beriman. Ancaman-ancaman eskatologis yang disindir Nabi bukanlah sesuatu yang implausible atau tidak masuk akal, karena dalam nalar Arab yang notabene Mu’min, keyakinan akan adanya surga dan neraka sama kuatnya dengan keyakinan mereka akan adanya kematian bagi setiap makhluk yang secara empirik mereka hadapi. Pemisahan antara Mu’min dan kafir dalam ajaran-ajaran Nabi merupakan simbol yang sharih atau tegas menunjuk pada pembagian dua ganjaran tersebut yaitu surga dan neraka.
Sungguh banyak sekali Suara-suara Kenabian yang sekiranya umat mau mengaplikasikannya, tentu bukan hanya dapat mendamaikan dunia, bahkan dapat menyelamatkan dunia dari tangan-tangan jahat yang menolak Suara Kenabian dengan mendahulukan kepentingan diri yang dangkal.
Permasalahannya sekat-sekat keimanan telah menjadikan para pemeluk agama menutup diri dan selalu manaruh curiga kepada pihak lain. Sehingga Suara-suara kenabian yang ada pada zamannya (ketika Yesus atau Nabi Muhammad masih hidup) terdengar begitu kerasnya dan bisa menggetarkan pendengarnya, kini surut tenggelam dan semakin tidak kedengaran. Orang-orang semakin sibuk dengan urusan agama masing-masing dan berjuang demi kemanusian berdasarkan persepsi sendiri-sendiri atas ajaran-ajaran agama, dan pada gilirannya berimplikasi pada munculnya perjuangan yang parsial-sporadis, dan tentunya tidak efektif. Keabsahan perjuangan selalu dialamatkan pada kelompok sendiri, sedang bagi orang lain yang turut membuka praktek yang sama, yaitu berjuang demi kemanusian selalu dipandang dengan penuh kecurigaan.
Konsep fastabiqul khairat seharusnya tidak disikapi demikian. Karena kompetisi dalam berbuat baik senantiasa bersifat positif, dalam arti selalu memandang orang lain dengan pandangan yang baik. Ketika terdapat musuh bersama seperti korupsi, nepotisme, kolusi, dan segala tingkah laku yang dapat merugikan orang lain, maka umat ( baca: setiap komunitas yang memiliki suara kenabian yang sama) mesti bersatu padu menghancurkannya dengan mengetepikan unsur-unsur keimanan. Dalam hal pemberontakan terhadap kelaliman, keimanan tidak boleh jadi penghalang, karena masalah yang dihadapi adalah masalah kemanusiaan. Maka di sinilah sebenarnya suara kenabian yang terpadu dalam nuktah keseragaman mendapatkan nafasnya untuk berlega-lega menyelamatkan manusia.

D. Penutup, sebuah Refleksi
Sebagai catatan akhir tulisan ini, meminjam analisa Farid Esack ketika melihat perbedaan di antara umat beragama, ia menyatakan beragam jalan dan agama yang ada adalah kehendak Allah agar manusia saling berlomba dalam kebaikan. Dalam perlombaan tersebut paling tidak ada empat implikasi yang harus disadari oleh setiap umat beragama. Implikasi tersebut adalah 1). Kebajikan yang diakaui dan diberi pahala bukan monopuli dari satu pihak yang berlomba saja. 2). Juri, (dalam hal ini Tuhan), harus berada di luar kepenting-kepentingan sempit para peseta lomba. 3). Klaim masing-masing peserta lomba bahwa hubungannya lebih dekat dengan juri (lebih disayang dari pada yang lain) tidak ada gunnya, bahkan bisa jadi merugikan dirinya sendiri sebagai perserta lomba. 4). Konpetisi yang adil itu tidak dapat diketahui hasilnya sebelum lomba berahir.9
Saat ini, ketika kita menemukan banyaknya pemuka-pemuka agama yang anti dengan adanya usulan-usulan untuk mempertemukan ajaran normatif agama dalam hal-hal yang berkaitan dengan moralitas. Ini bisa dipahami, karena mereka mungkin masih ragu dengan pihak lain. Mengapa demikian. Tentunya pengalaman pahit sejarah bisa menjelaskannya. Perlombaan untuk merekrut jamaah adalah salah satunya. Di samping itu pandangan-pandangan stereotype terhadap keimanan orang lain juga merupakan masalah lain. Tentu kita masih ingat tentang istilah filth atau najis10 yang digunakan oleh orang-orang Kristen terhadap komunitas Muslim di zaman Perang Salib. Kesan tersebut tampaknya akan terus tereproduksi dalam alam bawah sadar komunitas Kristen di Barat. Sebaliknya dalam alam bawah sadar komunitas Muslim pun kesan yang sama akan selalu tumbuh. Kuatnya pengaruh masa lalu yang pahit membentuk image masing-masing agama untuk menutup diri, saling mencurigai, dan malah kebablasan yaitu dengan tindakan penyerangan.
Untuk menghilangkan kesan tersebut, pastinya harus terus dilakukan kajian yang mendalam terhadap praktek keberagamaan masing-masing pihak. Tanpanya kita akan termuntahkan dalam upaya menjejalkan suara kenabian. Kelompok-kelompok yang menduduki posisi sentral dalam agama diharapkan terus keterlibatannya, karena merekalah corong yang menyuarakan ajaran-ajaran agama. Dari itu upaya penyelamatan terhadap manusia tidak boleh lagi dinodai dengan tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Urusan keberimanan adalah urusan individu, dan sekiranya kaum agamawan betul-betul konsern terhadap keselamatan manusia (meskipun pemahaman keselamatan berarti harus memiliki keimanan yang sama dengan para pembawa agama), maka mestinya mereka harus bisa memastikan bahwa keselamatan dalam tafsiran sederhananya berarti terbebasnya umat dari kegelisahan atas paksaan penguasa atau kelompok yang zalim, adanya kedamaian dalam menjalankan agama, hilangnya rasa was-was dalam menjalani hidup karena serba kekurangan, hilangnya praktek-praktek kemaksiatan di masyarakat, dan lain sebagainya dari hal-hal yang mengganggu kemanusiaan mereka.
Tak mudah memang untuk menyuarakan nuktah keseragaman, di sana sini tentu ada penolakan. Itulah yang namanya perjuangan, dia tidak akan pernah sepi dari respons-respons yang bertentangan. Namun upaya untuk memahamkannya kepada masyarakat dalam lintas agama mestinya harus terus dilakukan. Para mujahid-mujahid pendamba keselamatan dan kedamaian bagi manusia tidak boleh menyerah. Kaderisasi harus terus dibangun, karena proyek penyadaran akan pentingnya hidup bersama dengan damai dan pentingnya mengamalkan normativitas agama yang berisi pesan-pesan moral kenabiaan butuh waktu yang panjang. Tanpa kesabaran, suara kenabian niscaya akan tenggelam, dan kita akan terus dibayang-bayangi ketakutan dalam upaya menyuarakan pesan-pesan tersebut. wallahu a’lam.

























DAFTAR PUSTAKA
Armstrong, Karen, Muhammad: A Biography of The Prophet, Great Britain:Guernsey Press,1991.
Badru D. Katerengga and David W. Shenk, A Muslim and Christian in Dialogue, (Scottdale: Herald Press, 1997).
Burhan Daya, “Agama Yahudi, Sekitar Sejarah Bani Israil “ Makalah, (Yogyakarta: ttp 1908).
Mujahiddin Abdul Manaf sejarah Agama-Agama (Jakarta: PT Grpindo Persada 1996).
Fahrudin Faiz, “Hubungan Islam Kristen”, Jurnal Religi , Vol 1 No 1 Januari Juni 2002 .
Farud Esack, Librtion and Pluralisme, (Oxfod : One Word ,1998).
Fazlur Rahman, Metode Alternative Newmoderenisme Islam (Bandung: Mizan 1986).
Fazlur Rahman, Tema-pokok al-Quran, Terj. Anas Muhyiddin, (Bandung: Pustaka 1983). Nurchalis Majid, Islam Agama peradaban ( Jakarta: Paramadina 1995).
Frithjof Schuon, Mencari Titik Temu Agama-agama, Terj. Safroedin Bahar (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003).
Goerge B Gres dkk. Agama satu Tuhan ( Bandung MIzan 1998).
Jam’annuri, Studi Agama-agama: Sejarah dan Pemikiran,( Jogyakarta: Pustaka Rihlah 2003).
Jonh H. Hicks, Philosopi Of Religion (New Jersere: Prentice Hall, 1990).
Josep Bleicher, Hermeneutika Kontemporer, Terj. Ahmad Norma Permata, (Yogyakata: Pajar Baru, 2003).
Karen Armstrong, Muhammad: A Biography of The Prophet, (Great Britain:Guernsey Press,1991).
M.Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung:Mizan, 1998).
Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemoderenan, (Jakarta:Paramadina,1992).
Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Qur’an, (Bandung: Al-Mizan, 2000).
Tarmizi Tahir menuju ummatanWasathan kerukunan barAgama di Indonesia (Jakarta PPIM 1998).
W. Posepoprodjo, L PH. SS, Filsafat Moral, (Bandung Remaja Karya 1988).

1 Pentingnya agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah karena agama meruupakan rohnya manusia dalam bermasarakatnya. Hal ini terlihat bahawa manusia tidak hanya terdiri dari jasad kasar, tapi didalamnya terdapat roh yang maha suci.
2 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 378.
3 Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemoderenan, (Jakarta:Paramadina,1992), hlm. xciv.
4 Badru D. Katerengga and David W. Shenk, A Muslim and Christian in Dialogue, (Scottdale :Herald Press, 1997), hlm. 192.
5 Usaha untuk memeperkenalkan dan bukannya memakasakan dalam dialog antar iman.
6 Istilah esoterik dan eksoterik penulis pinjam dari Frithjof Schuon, Mencari Titik Temu Agama-agama, terj. Safroedin Bahar (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), hlm. 49.
7 Badru D. Katerengga and David W. Shenk, ibid., hlm 190.
8 Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Qur’an, (Bandung: Al-Mizan, 2000), hlm. 30.
9 Farud Esack Librtion and Pluralisme, (Oxfod: One Word, 1998) h. 171.
10 Karen Armstrong, Muhammad: A Biography of The Prophet, (Great Britain:Guernsey Press,1991), hlm.26.

1 komentar:

  1. ayo pasang iklan GRATIS GRATIS GRATIS diwww.baguslagi.com

    BalasHapus